Tak kunjung bagikan dividen, indeks IDX BUMN20 anjlok 38,31% dari awal tahun

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,25% pada perdagangan Jumat (8/5) ke level 4.597,43. Sejak awal tahun atau secara year-to-date (ytd), IHSG masih anjlok 27,02%. Meski demikian, ada satu indeks yang tercatat mengalami penurunan lebih dalam dibandingkan IHSG, yakni indeks IDX BUMN 20.

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham emiten yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini turun 38,31% sejak awal tahun. Meski demikian, indeks ini berhasil menguat tipis 0,81% pada perdagangan Jumat (8/5).

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, salah satu penyebab amblesnya indeks ini adalah penundaan pembagian dividen oleh emiten BUMN. “Salah satu penyebabnya adalah penundaan dividen, jadi saham BUMN dianggap tidak menarik bagi investor,” ujar William kepada Kontan.co.id, Jumat (9/5).

Kontan.co.id mencatat, masih banyak anggota indeks ini yang belum membagikan berkah dividen ke pemegang saham. Sebabnya adalah pandemi corona (Covid-19) yang akhirnya membuat beberapa emiten menunda rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) untuk menentukan besaran dividen.

Salah satunya adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang menunda RUPST dari 22 April 2020 ke 4 Juni 2020 mendatang. Salah satu mata acara dalam RUPST ini adalah penetapan penggunaan laba bersih, termasuk pembagian dividen.

Namun, ada pula beberapa emiten yang telah menunaikan kewajiban pembayaran dividen, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Selain itu, BUMN karya seperti PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) juga telah menentukan besaran dividen kepada pemegang saham yang diputuskan pada Rapat umum pemegang saham (RUPS) Maret 2020 lalu.

Selain itu, anjloknya indeks IDX BUMN 20 juga disebabkan oleh ketidakpastian proyek pembangunan ibukota baru, yang mana diprediksi akan mengalami penundaan. William mengatakan, hal ini menyebabkan investor berpindah portofolio.

Memang pemerintah menyatakan pembangunan ibukota baru masih tetap berlanjut, namun saat ini fokus yang dilihat pelaku pasar adalah pemutusan rantai penyebaran Covid-19. “Sehingga proyek ibukota jadi dilupakan dan emiten BUMN tidak dianggap menarik,” sambung dia.

Daftar konstituen indeks ini memang didominasi oleh BUMN karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Adhi KARYA Tbk (ADHI), dan PT PP Tbk (PTPP).

Ada juga emiten yang berkaitan dengan sektor pendukung infrastruktur (semen dan beton), seperti PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), dan Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).

Berikut ini adalah daftar penghuni Indeks IDX BUMN 20 yang telah menentukan besaran dividen tahun buku 2019 :
1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dividen Rp 16,49 triliun
2. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dividen Rp 20,92 miliar
3. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dividen Rp 3,84 triliun
4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dividen Rp 20,63 triliun
5. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), dividen Rp 925 miliar.
6. PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE), dividen Rp 112,91 miliar
7. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), dividen Rp 128,1 miliar.

Satu emiten yang telah mengonfirmasi akan membagikan dividen adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Hadis Surya Palapa menegaskan PTBA tidak akan mengajukan penangguhan pembayaran dividen untuk tahun buku 2019.

Selain itu, emiten tambang batubara ini masih akan mengupayakan besaran rasio pembayaran dividen tahun buku 2019 sama dengan besaran rasio dividen untuk tahun buku 2018, yakni sebesar 75%.

Sumber: kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *