Tbk. itu Terbuka

Segala sesuatu yang maujud di muka bumi ini, pasti memiliki keteraturan aktivitas yang disebut sebagai hukum alam alias sunatullah. Dalam Islam, sunatullah dibagi menjadi dua yakni sunatullah yang bersifat terpaksa (karhan) dan sunatullah yang bersifat sukarela (tau’an).

Sunatullah karhan ini umumnya bersifat lahiriah, sedangkan sunatullah tau’an lebih bersifat rohaniah dan maknawiah. Kedua sunatullah ini sama-sama memiliki konsekwensi negatif apabila keteraturannya dilanggar. Namun yang membedakan adalah soal timeframe-nya di mana efek samping sunatullah karhan langsung terasa, sedangkan efek sunatullah tau’an memiliki jeda yang lama.

Manusia bernafas adalah contoh dari sunatullah karhan. Ketika manusia melanggar kodrat itu, efeknya seketika berujung pada kematian.

Adapun contoh sunatullah tau’an adalah jika ingin mendapatkan uang, manusia harus berusaha dan bekerja, bukan mencuri. Sifat sukarela di sini memberikan pilihan kepada seseorang untuk memilih antara bekerja dan mencuri. Jika mencuri yang dipilih, selain mendapatkan hukuman positif di dunia, juga bakal diganjar neraka kelak di akhirat.

Menjadi perusahaan publik dengan menyandang gelar Tbk. juga memiliki keteraturan yang apabila dilanggar bisa berdampak buruk bagi perusahaan. Gelar Tbk. adalah kepanjangan dari terbuka, sehingga menjadi Tbk. itu bukan sekadar meraup uang dari publik dan mencatatkan sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia, tetapi juga bagaimana terbuka kepada publik atas semua informasi terkait perusahaan.

Sebagaimana sunatullahnya, arus informasi antara perusahaan dan publik harus berjalan lancar, tanpa adanya sumbatan. Ibarat darah yang tersumbat, bisa memicu stroke atau got yang mampet bisa memicu banjir, begitu juga dengan arus informasi. Begitu alirannya tersumbat, spekulasi akan muncul sehingga membuat harga saham perusahaan bergerak tak wajar.

Keterbukaan juga merupakan wujud transparansi dalam pengelolaan perusahaan sehingga semua pihak bisa melakukan pengawasan. Keterlibatan banyak pihak inilah yang diharapkan bisa menjaga tata kelola perusahaan dengan benar sesuai dengan prinsip good corporate governance.

Menyadari pentingnya keterbukaan ini, otoritas bursa bakal mewajibkan perusahaan yang sahamnya masuk dalam kategori bergerak di luar kebiasaan (unusual market activity/UMA) untuk menggelar mini expose. Harapannya, publik bisa mengetahui secara detil apa yang sedang terjadi, langsung dari manajemen perusahaan. Upaya ini juga sekaligus untuk menghindari tindakan suspensi perdagangan saham.

Soal keterbukaan informasi, praktik yang dijalankan oleh PT Kalbe Farma Tbk. patut menjadi suri tauladan. Emiten farmasi yang sudah melantai di BEI selama 26 tahun itu bisa dibilang sangat pro aktif dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Selain menjadi salah satu emiten yang paling mudah dihubungi, emiten berkode saham KLBF itu sering menggelar pertemuan rutin dengan para analis untuk meng-update informasi tentang perseroan.

Direktur merangkap Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Vidjongtius meyakini, arus informasi yang lancar akan membuat publik lebih bijak dalam melihat pergerakan saham perseroan. “Tim corporate secretary kami selalu menyiapkan dan menyampaikan banyak informasi untuk investor. Karena pengetahuan itu penting agar investor loyal,” katanya, pertengahan bulan ini.

Benar saja, di tengah mayoritas saham emiten farmasi yang berguguran lantaran sentimen negatif pelemahan nilai tukar rupiah, saham KLBF hanya terkoreksi tipis dan kini berbalik menjadi positif.

Namun ironisnya, di antara 536 emiten yang menyandang status Tbk., masih ada emiten yang berperilaku layaknya perusahaan tertutup. Manajemen perusahaan susah dihubungi, liputan wartawan dihalang-halangi, keterbukaan informasi dan paparan publik pun sekadar memenuhi syarat formal.

Kalau masih ada emiten yang berperilaku seperti ini, sebaiknya dipaksa go private sekalian karena arti kata terbuka itu adalah tidak tertutup.

Sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *